Era Terbuka Ngesti Pandowo

SEMARANG – Sedikitnya 200 kursi duduk gedung pertunjukan Ki Nartosabdho Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) diisi penonton, Sabtu (2/7) malam.

Masyarakat bersiap menyaksikan pergelaran Wayang Orang Ngesti Pandowo sejak awal adegan. Penonton yang datang pertengahan dipersilakan duduk di kursi penonton lantai dua. Menikmati seni tradisi ini, masyarakat harus merogoh kocek Rp 30 ribu.

Dalam pentas dengan lakon Gareng Dadi Ratu ini, wayang orang yang sudah bekarya pada 1940-an juga merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79. Pimpinan Wayang Orang Ngesti Pandowo Djoko Muljono mengatakan lakon yang dibawakan tidak ada hubungannya dengan ulang tahun. Namun, lakon ini pihaknya melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak.

”Dalam rangka HUT ke-79 kami pilih lakon yang sudah dikenal masyarakat,” kata Djoko di TBRS. Kolaborasi dilakukan dengan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Prof Edi Dharmana dan Prof Hertanto. Para dokter yakni Dr Damai Santosa, Dr Bambang Sudarmanto, Dr Meita Hendrianingtyas, Dr Martha Ardiaria.

Termasuk juga Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah Agus Wariyanto. Mereka didapuk menjadi pemainnya. Di momen hari jadi itu Djoko mengungkapkan keterbukaan Ngesti Pandowo dengan berbagai hal yang dilakukan.

Mulai dari penari di berbagai sanggar tari, keterbukaan partisipasi menjadi wayang atau bagian lain, penggunaan media sosial untuk promosi, hingga menyediakan layar sebagai pemandu pementasan. ”Kami buka seluas-luasnya.

Selebar-lebarnya. Mangga berpartisipasi untuk bekerja sama. Apapun. Kami membuka diri,” tuturnya. Dia mengungkapkan, teknologi merupakan pukulan berat untuk kesenian tradisional.

Di hadapan teknologi masyarakat tidak perlu datang menikmati langsung ke gedung pertunjukan. ”Istilahnya cukup duduk di rumah saja. Tanpa harus datang ke gedung pertunjukan hingga larut malam,” terangnya.

Pertunjukan Dipadatkan

Melihat keadaan itu, Ngesti Pandowo pun bersikap. Salah satunya durasi pertunjukan dipadatkan. Awalnya digelar mulai pukul 20.00 hingga pukul 01.00. Kini diringkas menjadi dua jam, pukul 20.00-22.00. ”Kami berharap generasi muda disamping melihat, juga mencintai wayang orang.

Berbagai cara kami tempuh. Promosi juga kami tingkatkan. Dari media sosial, menambah brosur, sampai kerja sama,” ungkapnya. Dari sisi cerita, pihaknya mengusahakan tidak terlalu pakem. Supaya masyarakat lebih mudah mencerna. ”Kadang masyarakat tidak paham jika terlalu pakem.

Kami gunakan LCD proyektor untuk memandu masyarakat dalam menikmati adegan. Berisi tulisan dengan bahasa Indonesia,” jelasnya. Ngesti Pandowo dalam pertunjukan ini menampilkan secara khusus Bagyo Gareng dan Laskar Muda Ngesti Pandowo.

Bercerita saat Dewi Warasubadra, istri Arjuna, sedang hamil muda. Berkeinginan atau ngidam dicarikan ikan Bader Bang Sisik Kencana.

Arjuna dibantu Punakawan menjaring di tengah telaga. Saat Gareng menjaring, jaring yang digunakannya rusak. Atas hal itu Gareng mendapat hukuman dimasukkan ke telaga oleh Arjuna.

Berkat pertolongan Dewi Warasubadra, Gareng lolos dari hukuman dan menjadi raja. Prabu Kresna yang memeintahkannya. Gareng yang menjadi raja hanya bisa dikalahkan oleh saudaranya sendiri yakni Petruk dengan sesanti atau doa ”Hayu-hayu rahayu niskala”. (akv-91)

Sumber: Suara Merdeka 4 Juli 2016

Kliping Suara Merdeka 4 Juli 2016