Ngesti Pandowo Pentas di Loenpia Jazz 2017

SEMARANG – Loenpia Jazz 2017 akan digelar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) pada Sabtu (20/5) nanti. Salah satu pengisi acara musik jazz ini adalah grup wayang orang legendaris Kota Semarang, Ngesti Pandowo. Para penjaga budaya tersebut hadir di gedung Narto Sabdo sekira pukul 20.00. Pada momentum ini, satu rangkaian acara pentas wayang orang tersebut juga akan meluncurkan media sosial dan aplikasi wayang orang Ngesti Pandowo.

Di antaranya Website, Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, Wikipedia, Google Map, TripAdvisor, serta aplikasi berbasis android. Peluncuran media sosial ini, atas kerja sama dengan Unika Soegijapranata. Lakon yang akan dimainkan adalah ’’Gatutkaca Rante’’. Sebagian pemain, yakni dokter-dokter dari Fakultas Kedokteran Undip, salah satunya Prof Edi Dharmana.

Besar di Semarang

’’Wayang orang Ngesti Pandowo sangat identik dengan TBRS. Setiap minggu, tepatnya Sabtu malam, grup wayang orang ini tampil di gedung Narto Sabdo. Meski mengalamai pasang surut, Ngesti Pandowo mampu bertahan untuk melestarikan budaya,’’ kata Founder Loenpia Jazz, Agung Bagus Arminato.

Dia menjelaskan, wayang orang Ngesti Pandowo telah menggelar pertunjukan sejak 1940-an. Grup ini dirintis oleh beberapa seniman kawakan waktu itu, seperti Sastro Sabdo, Narto Sabdo, Darso Sabdo, Kusni, Sastro Soedirjo. Meski lahir di Madiun, Jawa Timur, Ngesti Pandowo besar di Semarang.

Mereka mulai menetap di Semarang pada 1950-an. Ngesti Pandowo pernah pentas di Istana Negara Jakarta yang dihadiri Presiden Soekarno. Pada 17 Agustus 1962 mereka mendapat penghargaan berupa piagam Wijaya Kusuma dari Presiden Republik Indonesia saat itu.

Wali Kota, Hadi Supeno, sangat menyukai kepiawaian para seniman Ngesti Pandowo yang saat itu pentas keliling dan singgah di Semarang. Di kota ini, Ngesti Pandowo pernah dibangunkan gedung pertunjukan khusus bernama Gedung Rakyat Indonesia Semarang (GRIS), yang sekarang menjadi Mal Paragon. (akv-38)

Sumber: Suara Merdeka