80 Tahun WO Ngesti Pandawa Berkarya untuk Negeri

Gatutkaca Rante

Tidak banyak kelompok seni pertunjukan tradisional yang mampu bertahan di tengah gempuran arus perubahan yang sangat cepat. Di sepanjang perjalanan sejarahnya itu, Ngesti Pandowo telah mengalami pasang-surut dan manis-getir dunia seni pertunjukan tradisi khususnya wayang orang. Dekade 1960-an hingga awal 1980-an dapat disebut sebagai era keemasan Ngesti Pandowo. Pertunjukannya yang boleh dikatakan glamor, inovatif, dan spektakuler selalu ditunggu para penggemar yang rela antri berdesakan untuk mendapatkan tiket. Namun sejak pertengahan 1980-an sinar kejayaan itu mulai meredup. Pementasannya semakin kehilangan daya pikat, regenerasi pemain tidak berjalan baik, dan manajemen seni pertunjukan tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman, Pamor Ngesti Pandowo pun semakin memudar. Sekaligus dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun ini, menyongsong usianya ke- 80 tahun, Ngesti Pandowo perlu berjuang untuk perbaikan ke dalam secara menyeluruh baik manajemen, sarana-prasarana, personil dan sebagainya, disertai harapan memperoleh dukungan banyak pihak, baik dari pemerintah maupun swasta, untuk membangkitkan kembali kejayaan seni pertunjukan tradisi wayang orang ini. Saat yang baik pula bagi warga paguyuban, seniman seni tradisi, pemerintah dan pemerhati serta masyarakat pecinta seni tradisi untuk melakukan refleksi atas masalah yang sedang dihadapi, kontibusi yang telah diberikan dan usaha mempertahankan eksistensi paguyuban ini agar dapat senantiasa mencukupi dan mengikuti dinamika perkembangannya yang harus bertahan terhadap arus perubahan zaman. Semoga memasuki usianya yang ke-80 tahun, Wayang Orang Ngesti Pandowo mampu menjaga eksistensinya dan terus berkiprah serta mengabdi dalam pelestarian dan pengembangan seni tradisi.

SEJARAH WAYANG ORANG NGESTI PANDOWO SEMARANG

Perkumpulan Wayang Orang di era tahun 30 (tiga puluh) banyak yang mendirikan  suatu perkumpulan baik bersifat amatuer maupun profesional, kelahiran perkumpulan wayang orang tersebut tidak terlepas dengan perkembangan seni budaya yang masih dibutuhkan oleh penggemarnya. Sebagaimana kesenian tradisional umumnya, khusus untuk kesenian wayang orang maupun wayang kulit, pertunjukan kesenian wayang orang masih dapat dijadikan sebagai wahana pendidikan budi pekerti luhur bagi orang ketimuran pada umumnya  khususnya orang jawa. Oleh karena itu tidak aneh apabila ada yang mempunyai hajat peringatan hari-hari bersejarah, panen raya, bersih desa selalu dibarengi pertunjukan seni tradisional tersebut.

Dalam perkembangan jaman kemudian khususnya kesenian wayang orang maupun kesenian tradisional lainnya banyak dikemas melalui pertunjukan keliling untuk menggelar pentasnya dengan sarana yang dipersiapkan, garapan teknis maupun penyajiannya. Dengan kehadiran pertunjukan tersebut banyak orang menyebut sebagai wayang orang atau kethoprak tobong (keliling) pemberian nama tersebut dikarenakan penyajiannya selalu berpindah-pindah dari desa satu kedesa lain dan dari kota ke kota lain, sudah barang tentu dengan imbalan/jasa bagi yang akan menikmatinya. Beberapa kelompok Wayang Orang era tahun 1930 an diantaranya :

-       Wayang Orang “Sedyo Wandoyo” pimpinan Thie Yam Phing dari Surakarta

-       Wayang Orang dan Kethoprak “Darmo Mudo ” pimpinan Thiek Bong dari Kediri

-       Wayang Orang dan Kethoprak “Darmo Carito ” pimpinan Sam Thong dari Surabaya

-       Wayang Orang dan Kethoprak “Saru Tomo” pimpinan Khie Os dari Rembang

-       Wayang Orang dan Kethoprak “Wargu Wandowo ” pimpinan Thei Sin dari Semarang.

 

Sosok Ki Sastro Sabdho

Dalam Perjalanan sejarah di propinsi Jawa Tengah ada paraga atau tokoh yang bernama Ki Sastro Sabdho yang tergugah tekatnya mendobrak tembok batas yang berciri kapitalis untuk merubah pagelaran seni tradisi menuju kesejahteraan bersama. Ki Sastro Sabdho mulai megencangkan ikat pinggang merapatkan barisan para seniman wayang orang yang waktu itu mengadakan pagelaran di pasar malam Maospati Madiun, dalam waktu yang tidak lama Ki Sastro Sabdho membentuk dan mendirikan Paguyuban Wayang Orang yang diberi nama “Ngesti Pandowo”, dengan tujuan :

  1. Melestarikan dan mengembangkan kesenian wayang orang untuk menangkal masuknya budaya barat yang negatif agar bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri.
  2. Tetap lestari sebagai media penyampaian pesan-pesan pembangunan yang sedang digalakan Pemerintah.
  3. Agar tetap eksis selalu menghibur masyarakat Jawa Tengah khususnya, sebab kesenian tradisional wayang orang merupakan pertunjukan yang rekreatif dan edukatif.
  4. Memberikan motifasi kepada generasi muda untuk mencintai kembali budaya Jawa khususnya untuk generasi muda Ngesti Pandowo agar meneruskan perjuangan para sesepuh kita.
  5. Untuk mengembangkan kesenian tradisional khususnya kesenian Wayang Orang Ngesti Pandowo yang selama ini tidak dikenal oleh masyarakat luas, maka perlu pembaharuan dalam pementasan.

Landasan dasarnya adalah semangat kekeluargaan, semangat senasib seperjuangan , semangat gotong royong, holobis kuntul baris, dimana sesama seniman tradisional terutama seniman Wayang Orang.

Hari kelahiran paguyuban Wayang Orang “Ngesti Pandowo” adalah pada hari Kamis Pahing tanggal 1 Juli 1937 atau 21 Bakdho Mulud 1668 Wuku : Tambir, Tahun/Windu : Ehe/Adi ditengah suasana hingar bingarnya pasar malam orange di Maospati Madiun.

 

Perjalanan Dari Masa ke Masa

Perjalanan paguyuban telah menempuh perjalanan hidup yang penuh suka dan duka, dalam perjalanan tersebut tidak terlepas dari perkembangan jaman yang terus berkembang.Semenjak berdirinya tahun 1937 sampai dengan 1940 Wayang Orang Ngesti Pandowo meniti puncak keemasannya berkat keuletan, ketelatenan, dengan dilandasi semangat dan kerja keras bersama antara seniman seniwati “Ngesti Pandowo”

Perkembangan dunia dan lingkungan berdampak pada perjalanan perkumpulan Wayang Orang “Ngesti Pandowo” sehingga sejak tahun 1940 – 1945 Wayang Orang Ngesti Pandowo mengalami penurunan pendapatan, karena situasi negara yang masih dalam keadaan prihatin karena adanya perang dunia. Oleh karena itu sejak tahun 1945 sampai dengan tahun 1949 paguyuban Wayang Orang Ngesti Pandowo berhenti total.Kemudian tahun 1949 sampai tahhun 1966 paguyuban Wayang Orang “Ngesti Pandowo” mulai menata kegiatan dan mulai bangkit kembali di kota Semarang dan sekitarnya, berkat keuletan,ketelatenan dibarengi kerja keras para seniman seniwati Wayang Orang “Ngesti Pandowo” menorehkan prestasi dengan mengadakan pentas di Istana Negara Jakarta, yang di hadiri oleh Presiden RI Pertama Bung Karno.

Berdasarkan peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 1960, Paguyuban Wayang Orang “Ngesti Pandowo” memperoleh piagam dari Presiden RI pertama berupa piagam “Wijaya Kusuma” diberikan pada tanggal 17 Agustus 1962. Berkat upaya dan kiprah para seniman seniwati yang telah menghasilkan karya seni budaya yang ada di Kotamadya Semarang. Berkat kepemimpinan Ki Sastro Sabdho Wayang Orang “Ngesti Pandowo” telah berhasil mengangkat citra seni wayang orang khusunya, seni tradisional umumnya dengan memperoleh penghargaan tertinggi yang membanggakan para seniman seniwati pendukungnya. Dalam perkembangan perjalanan kemudian datang suasana yang menyedihkan dengan wafatnya Ki Sastro Sabdho pada tanggal 3 Januari 1966, karena harus menghadap Sang Khalik maka sebagai penerus perjuangan Ki Sastro Sabdho, di estafetkan paraga-paraga pecinta seni budaya yaitu Bapak Sastro Sudirdjo, Ki Narto Sabdho dan Ki Koesni. Perjalanan paguyuban Wayang Orang Ngesti Pandowo dari tahun ke tahun ditandai dengan berkurangnya sosok-sosok pendukung Ngesti Pandowo, satu demi satu mulai meninggal dunia Bapak Sastro Sudirdjo pada tanggal 19 Juli 1984, menyusul wafatnya kakaknya menghadap Sang Khalik. Pimpinan Wayang Orang Ngesti Pandowo digantikan oleh Ki Narto Sabdho.

Namun oleh karena kesibukannya melayani masyarakat sebagai Dalang terkenal, Ngesti Pandowo mulai jarang mengadakan pentas maupun pagelaran. Setahun sepeninggal Ki Sastro Sudirdjo, Ki Narto Sabdho menyusul wafat pada tanggal 7 Oktober 1985. Semenjak kehilangan para tokoh-tokoh/ penancap tonggak berdirinya paguyuban Wayang Orang Ngesti Pandowo, ada pepatah mengatakan “Harimau mati meninggalkan belang gajah mati meninggalkan gading dan manusia mati meninggalkan nama” nama paguyuban Ngesti Pandowo terpampang di Gedung GRIS jalan Pemuda Nomor 116 Semarang.

Tahun demi tahun pementasan Wayang Orang Ngesti Pandowo tetap berlangsung di gedung GRIS walaupun kurangnya penonton. Seiring perkembangan jaman agar tetap eksis kesenian Wayang Orang oleh Pemerintah di pindah dari gedung GRIS jalan Pemuda nomor 116 Semarang  ke  gedung Istana Majapahit jalan Majapahit Semarang. Semenjak menempati gedung Istana Majapahit peminat penonton semakin berkurang dan berimbas pada pendapatan, oleh karena itu Pemerintah pada tahun 1993 menyediakan gedung Ki Narto Sabdho yang berlokasi di Taman Budaya Rakyat Semarang (TBRS) di jalan Sriwijaya nomor 29 Semarang.

Seiring berjalannya waktu dan demi kelangsungan kehidupan para seniman seniwati khususnya Wayang Orang Ngesti Pandowo untuk pementasan hanya 1 (satu) kali dalam 1 (satu) minggu, yaitu pada malam minggu dengan penonton yang semakin menipis. Wayang Orang Ngesti Pandowo saat ini sangat memprihatinkan keberadaan dan kehidupannya di ibaratkan hidup segan matipun tak mau boleh di katakan tinggal NAMA. Pemerintah Propinsi Jawa Tengah dan Kota Semarang masih memberikan motifasi baik moril maupun materil, namun belum cukup mampu mengangkat seni budaya daerah. Arus modernisasi dan globalisasi yang melanda dewasa ini menjadi kendala dan persoalan besar bagi kehidupan wayang orang Ngesti Pandowo dan seni tradisional lainnya.

Selain pihak Pemerintah yang perlu untuk terus memperhatikan dan menyelamatkan juga sangat tergantung oleh para seniman seniwati pendukungnya, para pecinta, pemerhati, serta elemen masyarakat lainnya, para pelaku seni di Ngesti Pandowo yang sekarang masih ada ditantang untuk berupaya agar aset seni budaya yang ada di Kota Semarang tidak punah di terjang jaman. Oleh karena itu perlu adanya terobosan-terobosan atau upaya dari para generasi penerus yang mampu menggantikan dan mempertahankan keberadaan Wayang Orang “Ngesti Pandowo”.

Penghargaan yang telah diraih :

  1. Piagam Penghargaan dari pasar malam Orange Belanda pada tahun 1937
  2. Piagam Wijaya Kusuma dari Presiden Republik Indonesia pertama Bapak Ir. Soekarno pada tahun 1962
  3. Penghargaan dari Gubernur Jawa Tengah Bapak Soepardjo Roestam : Juara I Lomba Ketoprak se Jawa Tengah di Semarang pada tahun 1977
  4. Penghargaan dari LPP RRI Semarang tentang Partisipasi Aktif sebagai pengisi suara LPP RRI Semarang pada tahun 2006
  5. Penghargaan dari Universitas Katolik Soegijapranata Semarang tentang Pentas bersama Wayang Orang Ngesti Pandowo dengan Dosen dan Mahasiswa dalam rangka Diesnatalis ke XXVII tahun 2009 di Semarang
  6. Penghargaan dari Museum Rekor Muri Indonesia (MURI) tentang Pemrakarsa dan Penyelenggara Pagelaran Wayang Orang Ngesti Pandowo selama 70 tahun berturut-turut (tahun 2007)
  7. Masih banyak Penghargaan– penghargaan baik dari Instansi Pemerintah maupun Swasta yang tidak bisa kami laporkan disini.