Begini Pengakuan Pemkot Soal Status Ngesti Pandawa, Katanya . . .

wayang-orang-ngesti-pandawa-semarang_20150726_091328

Kesenian Wayang Orang (WO) Ngesti Pandowo merupakan aset kebudayaan tak benda di Kota Lumpia.
Keberadaannya pun kini masuk dalam kajian sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) milik Pemkot Semarang.
Demikian disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan ‎Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Kasturi.
“Wayang Orang Ngesti Pandowo tak boleh punah, (kesenian) ini masuk dalam kajian warisan budaya tak benda, kita semua harus menggarapnya secara serius,” katanya, kepada Tribun Jateng, baru-baru ini. Dia mengakui, saat ini nasib kesenian WO Ngesti Pandowo dalam situasi yang tak menggembirakan.
Selain belum dikelola secara mumpuni, dari beberapa aspek, minat masyarakat mengapresiasi seni pertunjukan itu juga jauh menurun dibandingkan dengan masa kejayaannya dulu.
“Untuk mengembalikan kejayaan Ngesti Pandowo, perlu dilakukan penataan secara menyeluruh dari beberapa aspek. Ngesti Pandowo harus punya daya tarik yang bisa menumbuhkan minat masyarakat menonton, tak boleh hanya begitu-begitu saja,” ujarnya.
‎Menurut dia, untuk menarik minat menonton masyarakat, Ngesti Pandowo harus berani berinovasi dan improvisasi, dengan menerapkan teknologi modern dalam pertunjukannya, tanpa meninggalkan ciri khas seni tradisionalnya.

“Saya contohkan, rebana dulu tak banyak diminati, tapi setelah melakukan improvisasi, kesenian ini kembali menarik minat masyarakat. Tak bisa Ngesti Pandowo hanya mengandalkan penonton itu-itu saja, penonton yang ingin bernostalgia,” bebernya.

Kasturi menyatakan, guna menumbuhkan minat masyarakat menonton, pemkot selama ini bekerjasama dengan beberapa pihak, utamanya untuk mendatangkan penonton dari segmen pelajar dan mahasiswa. ‎

“Selain hanya menonton, kami ajak juga anak-anak sekolah maupun mahasiswa, untuk sesekali turut tampil,” imbuhnya.

Selain dari segi penampilan, sambung Kasturi, tata kelola wajah pertunjukannya juga harus diubah.

Menurut dia, pemerintah tengah menyiapkan detail enginering design (DED) untuk mengubah wajah Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) sebagai tempat pementasan reguler Ngesti Pandowo.

“Jika wajah pagelaran dikelola secara modern, pasti akan lebih menarik. Untuk itu butuh panggung yang cukup besar dan representatif, serta lighting yang mumpuni. Sedang kami usahakan itu,” paparnya.

‎Kasturi berujar, jika Ngesti Pandowo mampu menampilkan sesuatu yang beda, serta ditunjang tata kelola pagelaran dan tempat yang representatif, akan mudah untuk mengajak kerja sama pihak lain, guna menjaring penonton
.
“Misalnya, kerjasama dengan agen perjalanan wisata, pihak hotel, dan pihak-pihak lain yang berpotensi mendatangkan penonton,” jelasnya.

Selain itu, ke depan ia ingin agar sesekali Ngesti Pandowo tak hanya tampil di TBRS, melainkan juga menggelar road show ke kecamatan-kecamatan atau tempat lain.

“Ada banyak kelurahan yang punya gedung luas, dan layak untuk menjadi lokasi pementasan. Nanti Ngesti Pandowo bisa tampil di sana untuk lebih mendekatkan ke masyarakat,” ucapnya.‎‎

Kasturi mengungkapkan, untuk menghidupkan lagi gairah masyarakat menonton wayang orang tak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah.

Para pemain juga harus mengubah mindset ‎menjadi benar-benar pelaku seni.

“Para pemain juga harus memikirkan bagaimana ini bisa eksis lagi, tak bisa hanya main dan selesai begitu saja. Kalau para pelaku seni, pemerintah, dan swasta bisa kompak, jalan bareng, membesarkan lagi Ngesti Pandowo tak sulit,” tandasnya.

‎Tak hanya itu, jauh ke depan ia berangan-angan agar ada pusat-pusat kesenian dan kebudayaan di berbagai penjuru Kota Semarang, tak hanya berpusat di TBRS.

Misalnya, di Semarang Timur, di Gunungpati, dan beberapa titik lain.

“Jika kantong-kantong kebudayaan bisa dibangun di luar TBRS, kesenian tradisional bisa benar-benar hidup. Keinginan lain yang saat ini belum terealisasi adalah adanya sekolah tinggi atau institut seni di Semarang. Ini erat kaitannya dengan tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni, seperti halnya di Solo maupun Yogyakarta,” urainya.

Dia menambahkan, Pemkot Semarang sangat mendorong upaya-upaya pelestarian budaya dan seni tradisional. Menurutnya, besaran biaya tak akan menjadi soal, selama program-program yang ada, output, input, serta benefidnya, jelas dan terukur.

“Pak Wali (wali kota-Red) juga sangat mendorong dan concern terhadap pelestarian budaya, baik fisik maupun non-fisik,” tutur Kasturi.

repost from (http://jateng.tribunnews.com/2017/07/24/begini-pengakuan-pemkot-soal-status-ngesti-pandawa-katanya)